Sejarah singkat Desa Pakraman Budakeling

Tersebutlah nama seorang Wiku Bhagawanta di kerajaan Majapahit di tanah Jawa yang termashur kebijaksanaannya ke seluruh nusantara bernama Dang Hyang Nata Angsoka (Mpu Tantular/Mpu Wiranatha) yang dikenal dengan ajaran ka Budhan (Budha Kasogatan/Budhaisme) dan adik beliau bernama Dang Hyang Nirartha/Dang Hyang Dwijendra yang dikenal dengan ajaran ka iwan (Siwaisme) dan adik beliau Mpu/Dang Hyang Bajra Sandhi dikenal dengan ajaran Brahma (Brahmaisme). Pada zaman keagungan pemerintahan Dalem di Bali, ialah Dalem Sri Waturenggong yang bertahta di Puri Swecapura (Klungkung sekarang) tepatnya di Gelgel sekitar abad XV tahun 1460-1550 Masehi, beliau adalah keturunan kelima dari Mpu Tantular. Untuk melengkapi kesempurnaan pengetahuan raja di bidang keagamaan serta untuk bekal dalam kehidupan akhirat. Raja memerlukan seorang wiku yang mampu membimbing dan memberi nasehat-nasehat kepada beliau (sebagai Purohita/Nabe keluarga kerajaan). Selain itu beliau juga ingin mengadakan yajna besar yang disebut Homa (suatu upacara besar permohonan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar seluruh kerajaan kerta raharja, hurip sarwa tinandur, adoh sasab adoh mrana, dan sejahtera rakyatnya). Menurut beliau di Bali tidak ada wiku yang dianggap memenuhi syarat untuk melaksanakan kehendak raja yang dimaksud. Maka terdengarlah berita bahwa di Majapahit ada seorang wiku yang bernama Dang Hyang Nata Angsoka, akhirnya diputuskanlah oleh raja untuk mohon kesediaan beliau untuk menjadi nabe kerajaan serta muput karya Homa dimaksud. Lalu diperintahkan utusan kerajaan menghadap Dang Hyang Nata Angsoka.  Dang Hyang Nata Angsoka mengatakan kepada utusan raja bahwa, beliau sangat berterimakasih atas kehormatan yang diberikan raja Bali tersebut, namun dengan sangat menyesal beliau tidak dapat memenuhi keinginan raja, sebab kala itu pemerintahan kerajaan Majapahit sedang kisruh dan tidak dapat meninggalkan kerajaan. Namun ia menjelaskan bahwa ada seorang wiku yang sangat sakti dan mahir dalam segala pengetahuan, yaitu Dang Hyang Nirartha yang merupakan adik beliau sendiri dan sudah lama beliau bermukim di Bali yakni di Desa Mas, Gianyar tahun saka 1486, agar menjadi nabe kerajaan. Setelah utusan raja kembali ke Bali, dan disampaikan kepada raja, rajapun setuju lalu mengutus Gusti Arya Dauh Bali Agung untuk menjemput Dang Hyang Nirartha agar beliau datang ke Gelgel untuk diksa Dalem sekeluarga. Tidak lama kemudian Dalem didiksa oleh Dang Hyang Nirartha. Adapun kehendak raja yang belum tercapai, yakni melaksanakan Upacara Homa, dimana kala itu raja belum memperoleh jawaban yang pasti. Pada waktu itu datanglah seorang wiku (rohaniwan) Pandita Budha Mahayana ke Bali, yang bernama Dang Hyang Asthapaka, yakni putra Dang Hyang Nata Angsoka di Majapahit yang juga asal mulanya dari daerah Keling (Jawa Tengah). Atas perintah ayahandanya beliau datang menghadap raja Bali, dimana sebelumnya beliau dianugrahi pendalaman semua karya kehidupan (yajna-yajna) termasuk upacara Homa. Kedatangan beliau ke Bali ingin bertemu dengan paman beliau yang berpasraman (bertempat tinggal) di Desa Mas, Gianyar, Dang Hyang Asthapaka membawa pesan dari ayah beliau agar Karya Homa yang merupakan kelanjutan karya padiksaan Dalem Sri Waturenggong segera dapat terlaksana. Karena baru datang, beliau juga dikenal dengan nama Sang Hanyer Dateng atau Mpu Boddha. Sejak saat itu Dang Hyang Asthapaka diangkat oleh Dalem menjadi Bhagawanta (penasehat) kerajaan. Kedua pandita Siwa Budha menemukan hari baik untuk melaksanakan yajna Homa. Dengan kesempurnaan dan keunggulan pengetahuan kedua bhagawanta ini Karya Homa akhirnya berhasil. Setelah upacara tersebut, keadaan kerajaan semakin sejahtera dan tentram. Kedua Sang Maha Siwa dan Sang Dwija Sogatha diangkat menjadi Cudamani (permata)  Raja. Sebagai permohonan agar Sang Boddha tetap tinggal di Bali dan melanjutkan membina dharma maka dipersembahkan seorang putri untuk istri beliau, yakni putri Dang Hyang Nirartha yang bernama Ni Dyah Swabhawa, yang sebelumnya telah diminta oleh Dalem. Tujuan persembahan putri tersebut, adalah agar Dang Hyang Asthapaka tetap tinggal di Bali serta mempunyai keturunan (Maka Don Putra) dan diberi tempat pasraman di Banjar Ambengan Gianyar. Untuk selanjutnya disanalah beliau memiliki seorang putra yang diberi nama Ida Banjar (karena beliau lahir di Banjar Ambengan). Diceritakanlah wafatnya Dalem Sri Waturenggong dengan meninggalkan dua orang putra mahkotanya yang masih kanak-kanak, yakni I Dewa Bekung dan I Dewa Sagening. Kedua putra mahkota Dalem inilah sebagai pengganti ayahnya menjadi raja. Pelaksanaan pemerintahannya diemban atas pengakuan Patih Manggala Utama I Gusti Batan Jeruk, yaitu seorang sisya (murid) kesayangan Dang Hyang Asthapaka.  Suatu ketika, karena keangkuhan I Gusti Batan Jeruk yang ingin menguasai pemerintahan kerajaan, ia berlaku tidak sesuai aturan kerajaan kemudian ia dipanggil menghadap Dang Hyang Asthapaka, namun ia sama sekali tidak menghiraukan nasehat-nasehat gurunya. Atas perbuatan yang menginginkan kekuasaan Dalem, dimana sebelumnya sudah menjadi kecurigaan oleh Patih dan arya-arya lainnya, maka terjadilah pertikaian dan penggempuran terhadap I Gusti Batan Jeruk yang akhirnya I Gusti Batan Jeruk terbunuh di Jungutan Desa Bungaya, Karangasem. Mengingat tragedi yang menimpa murid (sisya) kesayangannya itu, lalu Dang Hyang Asthapaka bersama putranya Ida Banjar meninggalkan pasramannya di Desa Ambengan. Sesampainya beliau pada sebuah bukit, yaitu Bukit Penyu/Batu Penyu di sanalah beliau beristirahat, karena kemalaman. Sedang beliau menikmati keindahan alam, tiba-tiba terlihat oleh beliau seberkas cahaya yang seakan-akan memancar dari bumi ke angkasa. Oleh karena itu beliau bersama putranya segera melaksanakan samadhi (meditasi). Di dalam samadhinya beliau mendapat wahyu yang menunjukkan kepada tempat sinar tersebut, adalah tempat yang terpilih untuk beliau mendirikan sebuah pasraman dan tempat yang suci bagi beliau untuk suatu jalan pulang ke Budhalaya. Segeralah beliau melanjutkan perjalanannya diiringi putranya menuju dimana tempat sinar itu berasal. Sesampainya di tempat itu, maka sinar itu perlahan lenyap. Lalu di sanalah beliau beristirahat dan menancapkan tetekan (tongkat) yang terbuat dari kayu pohon tanjung (sejenis bunga dengan bau yang harum), sebagai pertanda bahwa di sanalah beliau mendirikan pasraman. Tercatat kira-kira tahun saka 1416 beliau mendirikan pasraman dengan nama Pasraman Taman Tanjung. Nama ini diambil dari nama kayu tetekan (tongkat) tadi yang kemudian tumbuh hidup subur dan mekar hingga sekarang. Di sebelah Timur Lautnya,  500 meter dari Pasraman Taman Tanjung beliau mendirikan tempat pemujaan (Pamerajan) yang disebut dengan nama Taman Sari tempat melakukan yoga samadhi, disinilah beliau mencapai Nirwana (Moksa). Setelah Dang Hyang Asthapaka mencapai moksa, Pasraman Taman Tanjung ditempati dan dipelihara oleh putra beliau Ida Banjar yang setelah di dwijati bernama Ida Pedanda Made Banjar bersama istrinya. Pandita ini berputra Ida Wayan Tangeb/Ida Pedanda Wayan Tangeb, yang kemudian beliau memiliki tiga orang istri, yakni (1) I Gusti Ayu Jelantik berputra dua orang (Ida Pedanda Wayan Tegeh menetap di Griya Tegeh, Budakeling dan Ida Pedanda Made Banjar pindah menetap di Batuan, Gianyar); (2) I Dewa Ayu Istri Beng Gianyar berputra tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan (Ida Pedanda Wayan Dawuh menetap di Griya Kauhan Budakeling, Ida Pedanda Wayan Tangeb menetap di Griya Krotok dan Ida Pedanda Made Pangkur pindah menetap di Griya Kawan, Culik dan (3) Ida Pedanda Istri Alit Kemenuh berputra dua orang (Ida Pedanda Wayan Alit menetap di Griya Alit dan Ida Pedanda Made Mas pindah menetap di Tianyar). Diceritakan Ida Pedanda Wayan Tegeh (Griya Tegeh) berputra enam orang (Ida Pedanda Wayan Gianyar menetap di Griya Tegeh, Ida Pedanda Gede Linggasana menetap di Griya Gede, Ida Pedanda Wayan Dangin menetap di Griya Dangin Betenan, Ida Pedanda Raka menetap di Griya Pekarangan, Ida Pedanda Gede Rai menetap di Griya pekarangan Danginan, Ida Pedanda Kantrog menetap di Griya Dangin Duuran. Pada saat Pedanda Wayan Dangin mengambil istri yang pertama, yaitu I Gusti Ngurah Istri Sidemen, saudara I Gusti Ngurah Sidemen Sakti, ini dilengkapi pangiring (pengikut). Dimana pangiring-pngiringnya terdiri atas tiga kelompok, yakni:
1. Pande Mas di Banjar Pande Mas 2. Pande Besi di Banjar Pande Besi 3. Balian satu keluarga di Banjar Balian dan sekarang sudah lenyap (tidak mempunyai keturunan) disertai patung/togog berupa Delem dan Sangut. Patung tersebut masih ada hingga sekarang dan diletakkan di Griya Jelantik Budakeling   Keluarga Pande Mas diberikan tempat di sebelah Barat pamerajan Taman Sari, keluarga Pande Besi diberikan tempat di sebelah Selatan pamerajan taman Sari, dan keluarga Balian diberikan tempat di sebelah Barat pasraman Taman Tanjung. Pada tahun saka 1634 (1712 Masehi) terjadilah bencana alam meletusnya Gunung Agung yang ke empat kali, menyebabkan banjir lahar di sungai sebelah Timur Pemrajan Taman Sari, sejak saat sungai tersebut disebut sungai/Tukad Mbah Api/Mbah Geni. Bencana itu yang mengakibatkan beliau beserta semua keluarga pratisentana (keturunan) nya yang tinggal di tempat itu dengan semua pangiring-pangiringnya (pengikut) berpindah tempat menuju ke Barat di sebelah Selatan Bukit Pinggan (Bukit Puncak Sari)  500 meter dari Pasraman Taman Tanjung. Di sanalah beliau bersama-sama pangiringnya mencari perlindungan serta mendirikan perumahan/pemukiman. Mengingat hubungan baik antara Pedanda Wayan Dangin dengan I Gusti Ngurah Sidemen Sakti, (karena saudara I Gusti Ngurah Sidemen menjadi istri Pedanda Wayan Dangin), maka I Gusti Ngurah Sidemen Sakti yang masih memiliki serta mewenangkan wilayah tersebut, dengan setulus hati menghaturkan (mempersembahkan) tempat itu kepada Pedanda Wayan Dangin, dengan maksud agar tempat wilayah itu menjadi tempat tinggal beliau bersama keluarganya serta pangiring-pangiringnya. Hal inilah yang menyebabkan Pedanda Wayan Dangin bersama saudara-saudara beliau bermufakat untuk mendirikan bangunan-bangunan dalam satu ikatan Desa. Adapun bangunan-bangunan Desa yang didirikan adalah:
(1) Setra (kuburan di sebelah Barat Daya Desa Pakraman Budakeling;
(2) Di sebelah Utara setra (kuburan) dibangun Pura Dalem;

image

(3) dibangun Pura Batur, sebagai suatu peringatan atas Petunon (tempat pembakaran jenasah untuk Pedanda/yang sudah di dwijati, diksa), yakni Pedanda Made Banjar dan Pedanda Wayan Tangeb yang terletak di kaki bukit Hyang Pinggan (bukit Puncak Sari);
(4) dibangun pula Pasar Desa, dan pembagian pakarangan-pakarangan serta bangunan lainnya guna memenuhi kelengkapan sarana dari suatu Desa.

image

Sebagai bentuk penghormatan bagi Dang Hyang Asthapaka yang juga bernama Sang Boddha yang dianggap sebagai penemu dari tempat tersebut. Nama Keling diambil dari kata Kalingga, suatu tempat di India Selatan yang dulunya tempat berkembangnya Agama Budha. Sumber lain menyatakan bahwa dengan menghubungkan bahwa beliau adalah seorang Pandita Budha Mahayana yang berasal dari kerajaan Keling, Jawa Timur, maka diputuskanlah Desa tersebut diberi nama DESA PAKRAMAN BUDAKELING, yang berarti Sang Budha yang berasal dari Keling. Demikianlah pusat Desa Pakraman Budakeling yang baru dengan masyarakat yang religius/taat menjalankan sastra agama yang diwujudkan dengan kegiatan yajna dan kegiatan spiritual lainnya sehingga kehidupan masyarakatnya tentram dan damai. Maka dari itu, Desa Pakraman Budakeling disebut sebagai pusat ka sogatan/Budha di Bali

image

(Babad Desa Pakraman Budakeling, 1980 : 1-18)

image

Desa Budakeling

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

image

image

Cekepung… di Desa Budakeling

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

image

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KONSEP ASTA BRATHA DALAM KEPEMIMPINAN HINDU

Om swastiastu

Om namo siwa budhaya

Terima kasih atas waktu yang di berikan kepada saya.

Yang saya hormati Bapak dosen

Dan teman teman yang saya banggakan

Rasa angayubagia kita haturkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas asungkerta waranugraha-Nyalah kita dapat berkumpul di kesempatan yang berbahagia ini dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.

Pada kesempatan yang baik ini saya akan menyampaikan Dharma Wacana yang berjudul Konsep Asta Bratha Dalam Kepemimpinan Hindu. Yang mendasari saya mengangkat judul ini karena saya merasa masih banyak pemimpin yang belum menerapkan konsep asta bratha sebagai seorang pemimpin.

Umat sedharma yang saya kasihi

Konsep asta bratha merupakan ajaran kepemimpinan hindu yang bersumber dari weda yang terdapat di Nitisastra, asta bratha ini merupakan konsep yang di pakai oleh raja raja zaman dahulu untuk memimpin kerajaannya hingga menjadi kerajaan besar dan makmur. Sebelum saya lebih jauh memaparkan asta bratha terlebih dahulu saya akan menyampaikan, apa itu pemimpin?, dan apa itu kepemimpinan?.

Umat sedarma yang berbahagia

Pemimpin adalah orang yang di anggap mempunyai pengaruh terhadap kelompok orang banyak. Sedangkan Kepemimpinan adalah proses memimpin, mengatur, menggerakkan menjalankan suatu organisasi, lembaga, birokrasi dan sebagainya, menurut Prof. Gunadha kepemimpinan adalah proses menolong dan membantu orang lain untuk bekerja secara antusias kearah tujuan. Kepemimpinan juga berarti aktivitas mempengaruhi orang lain untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara sukarela. Dalam ajaran Hindu ditemukan banyak sekali ajaran tentang kepemimpinan salah satunya dalam kitab Atharwa Veda III.4.1 dijelaskan tentang tugas seorang pemimpin sebagai berikut :

“Wahai pemimpin Negara, datanglah dengan cahaya, lindungilah rakyat dengan penuh kehormatan, hadirlah sebagai pemimpin yang utama, seluruh penjuru memanggil dan memohon perlindunganmu, raihlah kehormatan dan pujian dalam Negara ini”.

Umat sedharma yang saya hormati

Kepemimpinan menurut Hindu sangat banyak dibahas dalam cerita-cerita Hindu salah satunya dalam Manawadharmasastra dijelaskan bahwa seorang pemimpin harus menanamkan delapan sifat dewa di dalam dirinya yang disebut Asta Brata. Kedelapan sifat Dewa dapat dijelaskan sebagai berikut

Indra Bratha

Dewa Indra adalah Raja dari para dewa, yang tinggal di Kahyangan Kaendran dimana di sana adalah simbol kekayaan (harta), simbol kekuasaan (tahta) dan simbol kesenangan seksual, semua bidadari tercantik ada di Kaendran (wanita). Ketiga-tiganya harus dimiliki oleh seorang pemimpin besar dan rupanya hal ini diterapkan dalam kerajaan-kerajaan Hindu di India, Jawa, dan Bali pada masa lalu. Dengan kewibawaanlah seorang pemimpin disegani oleh lawan maupun kawan.

Dalam Kesusasteraan Veda, Dewa Indra dipuja dalam dua aspek, yaitu sebagai Dewa Hujan dan Dewa Perang. Hujan adalah air yang sangat diharapkan bagi petani untuk memulai bercocok tanam, dari bercocok tanamlah petani memperoleh makanan, tercukupinya sandang dan perumahan, inilah kesejahteraan. Oleh sebab itu Dewa Indra adalah simbol kesejahteraan. Seorang pemimpin harus selalu berfikir, berkata, dan berbuat untuk mengusahakan kesejahteraan rakyatnya. Dewa Indra juga dipuja sebagai Dewa perang, penakluk musuh yang utama. Dalam hal ini seorang pemimpin haruslah menjadi pelindung bagi rakyatnya, yang mampu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi rakyat. Musuh bukan saja pengganggu dari luar atau pemberontak, melainkan musuh dalam diri. Ini bermakna bahwa seorang Raja haruslah mampu mengendalikan dirinya dari musuh-musuh yang ada dalam diri (sad ripu), sehingga pemimpin menjadi teladan bagi rakyatnya dalam hal pengendalian diri.

Yama Bratha

Dewa Yama atau di Bali dikenal dengan nama Yamadhipati adalah Dewa yang bertugas untuk mencabut nyawa manusia. Dalam bertugas Dewa Yama dibantu oleh seorang pencatat segala dosa manusia, yaitu Sang Suratma. Dewa Yama juga bertugas sebagai penghukum semua kesalahan manusia, penjaga neraka. Dewa Yama adalah seorang pengadil yang tidak pernah pilih kasih apalagi tebang pilih. Seorang hakim agung yang tidak pernah salah dalam mengambil keputusan. Demikianlah sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu memberikan keadilan kepada rakyatnya. Dalam manajemen modern sifat Dewa Yama dapat diterapkan dengan memberikan penghargaan dan hukuman secara tepat kepada anggota yang berjasa bagi laju organisasi dan hukuman kepada yang bersalah.

Surya Bratha

Surya atau Matahari adalah sinar Maha agung, oleh karnanya segala kehidupan mungkin bertahan dan berkelanjutan. Surya juga dikatakan sebagai Saksi Agung Tri Bhuwana, tidak ada satupun kejadian didunia ini yang tidak beliau ketahui. Itulah makna mantra Surya Raditya yang menyatakan bahwa Dewa Surya adalah saksi dari segala perbuatan manusia, baik perbuatan buruk maupuk baik, subha dan asubha karma. Surya adalah Sinar yang paling utama di dunia, menyinari seluruh jagadraya tanpa kecuali. Dalam kepemimpinan Hindu, sifat Dewa Surya yang harus diteladani adalah memberikan sinar kehidupan bagi seluruh rakyatnya tanpa kecuali. Kesejahteraan bagi seluruh rakyat adalah tugas seorang pemimpin. Sifat Dewa Surya yang lain adalah menghisap pajak dari rakyat, tetapi rakyat tidak merasa tersakiti. Demikian dicontohkan oleh Sinar Matahari yang menyinari/memanasi air laut, menyerap uap air ke udara, menjadi awan, awan menjadi hujan, dan air hujan yang jatuh dipegunungan kembali ke laut. Laut tidak merasa matahari memanasinya, semua berlaku seperti proses alam, simbiosis mutualisme. Demikian juga semestinya hubungan antara seorang pemimpin dengan yang dipimpin.

Candra Bratha

Candra atau Bulan adalah Dewa yang menyinari di kala malam hari. Malam adalah saat gelap, sisi gelap kehidupan manusia. Bulan adalah sinar, tetapi tidak pernah memberikan rasa panas bagi yang disinari. Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa ada dua sifat bulan yang perlu diteladani oleh seorang pemimpin. Pertama, seorang pemimpin haruslah memberikan penerangan di saat kesusahan menimpa rakyatnya. Dalam skup yang lebih kecil misalnya dalam organisasi kelurahan, seorang lurah wajib mengerti kesusahan yang menimpa staff atau warga kelurahan dan mampu memberikan solusi bagi kesusahan mereka atau setidaknya memberikan penerangan dan kekuatan mental kepada yang sedang tertimpa kesusahan. Di samping itu, Bulan juga menyimbolkan sinar kesejukan. Seorang pemimpin harus memberikan kesejukan bagi rakyatnya. Tutur kata dan perbuatan seorang pemimpin haruslah menyejukkan bagi rakyatnya. Jadi, nilai etika Hindu dalam kepemimpinan Candra Brata adalah memberikan kesejukan bagi rakyatnya, menghilangkan kesesahan yang menimpa rakyat.

Bayu Bratha

Bayu atau angin selalu memenuhi ruang, tidak ada satupun ruang yang tidak terisi oleh angin. Dia memberikan kehidupan dalam wujud nafas, memenuhi ruang dan tidak menyisakan satupun ruang yang tidak terjamah olehnya. Demikian halnya dengan seorang pemimpin, layaknya berlaku seperti angin, yaitu mampu membaca seluruh pikiran dan kehendak rakyat tanpa kecuali. Seorang pemimpin haruslah memiliki kepekaan terhadap keinginan dan kehendak rakyat.

Kuwera Bratha

Kuwera dalah Dewa kekayaaan. Dalam hal kepemimpinan, Kuwera Brata berarti seorang pemimpin haruslah selalu tampil elegan. Harga diri seorang pemimpin adalah dari penampilannya. Bukan berarti seorang pemimpin harus berpenampilan serba mewah yang justeru menimbulkan benturan antara pemimpin dan yang dipimpin. Penampilan, tata cara berpakaian adalah hal yang juga diajarkan dalam etika Hindu yaitu berpenampilan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di mana penampilan seperti itu harus hadir.

Baruna Bratha

Baruna adalah dewa laut, laut adalah simbol keluasan tanpa batas. Laut adalah penamping semua kekotoran yang dibawa oleh aliran sungai, tetapi laut tidak pernah terkotori malahan mampu menyucikan semua kotoran itu. Demikianlah pikiran seorang pemimpin, pemimpin haruslah berpikiran luas, mampu menampung semua kesalahan-kesalahan, kejahatan-kejahatan yang dilakukan atau ditimpakan kepada dirinya dan selanjutnya mensucikan semua kekotoran itu sehingga semua menjadi suci. Seorang pemimpin tidak layak memvonis bahwa rakyatnya yang berlaku tidak baik selamanya akan tidak baik, melainkan memberikan bimbingan terus menerus kepada mereka sehingga nantinya menjadi orang baik. Demikianlah sifat laut yang harus diteladani oleh seorang pemimpin.

Agni Bratha

Agni atau api bersifat membakar. Dalam hal kepemimpinan sifat api atau agni bermakna membakar semangat rakyat untuk maju dan menuju ke arah kemakmuran, ke masa depan yang lebih baik. Perilaku seorang pemimpin haruslah senantiasa memberikan teladan-teladan kepada anggotanya agar selalu bekerja-bekerja dan bekerja demi kemajuan organisasi yang dipimpin. Dalam manajemen modern hal ini bisa dilakukan dengan membuat inovasi-inovasi gaya kepemimpinan, misalnya melepaskan semua kejenuhan dan membangun semangat baru dan motivasi kerja menjadi lebih baik.

Umat sedharma yang saya cintai

Demikian dharma wacana yang bisa sampaikan, dapat saya simpulkan bahwa ajaran asta bratha masih sangat relevan / pantas di terapkan di zaman sekarang. Kepemimpinan Astra Brata yang menjadi landasan kepemimpinan dan Etika Hindu. Seperti dalam kakawin Ramayana dijelaskan  bahwa pemimpin yang sempurna adalah wruh ring weda (tahu akan sastra-sastra suci dan pengetahuan lainnya), bhakti ring dewa (beriman kepada Tuhan), tarmalupeng pitra puja (tidak melupakan leluhur, jasa-jasa pemimpin terdahulu), masih ring swagotra kabeh (welas asih pada sesama manusia). Semoga ajaran asta bratha dapat di terapkan oleh pemimpin -pemimpin hindu sekarang dan seterusnya.

Om santih santih santih Om.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Karma Phala atau Hukum Karma

 

Om swastiastu

Om Awighnam astu namo sidham

Yang saya hormati Bapak dosen

Yang saya banggakan teman teman para mahasiswa

marilah kita haturkan Rasa angayu bagia  kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas asung kerta waranugraha-Nyalah kita dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat baik jasmani maupun rohani, pada kesempatan hari ini ijinkanlah saya menyampaikan Dharma Wacana yang berjudul “Karma Phala atau Hukum Karma”. Pada kesempatan hari ini saya mengangkat topik ajaran hukum karma atau karma pahala, karena masih ada sahabat kurang memahami dengan  karma.

Para mahasiswa yang berbahagia, seringkali kita melihat dimasyarakat  saudara kita  yang berbuat tidak baik tetap beruntung (senang), sedangkan saudara kita yang sering berbuat baik malahan hidupnya susah bahkan sering dicemoh, didalam kitab Slokantara 68 ada menyebutkan, Karmaphala  ngaran ika pahalaning gawe hala ayu : karmaphala artinya akibat atau buah dari perbuatan buruk maupun baik. sebagaimana sudah menjadi hukum karma segala sebab pasti membawa akibat. contoh jika kita menanam bibit salak maka buah salaklah yang kita petik bukan buah durian. Hukum karma ini sangat berpengaruh terhadap baik buruknya semua mahluk sesuai dengan perbuatan baik dan perbuatan buruknya yang dilakukan semasa hidup. Hukum karma dapat menentukan seseorang itu hidup bahagia atau menderita lahir batin. Jadi setiap orang yang berbuat baik, pasti akan menerima hasil dari perbuatan baiknya, demikian juga sebaliknya setiap orang yang berbuat buruk, buruk pula yang akan ia terima kelak.

Para mahasiswa yang saya kasihi

Phala atau hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat dirasakan atau dinikmati. Ada yang dirasakan seketika, ada yang dikemudian hari, dan ad juga yang di nikmati di kehidupan yang akan datang. Bahkan karma kita di masa kehidupan yang lalu, bisa pula pahalanya dinikmati dalam kehidupan masa kini. Dalam ajaran hindu ada tiga konsep karma phala yaitu :

  1. Sancita Karma Phala

Hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis pahalanya dinikmati dan masih merupakan sisa yang menentukan kehidupan kita sekarang. Contohnya di kehidupan lalu, kita menjadi koruptor pahalanya belum sempat dinikmati maka di kehidupan sekaranglah semua pahala akan dinikmati, entah terlahir sebagai seorang gelandangan atau sulit mendapatkan pekerjaan dan sengsara.

  1. Prarabda Karma Phala

Hasil perbuatan kita di kehidupan sekarang yang pahalanya diterima atau dinikmati habis di kehidupan sekarang juga. Contoh kita memukul teman, tiba-tiba pada saat pulang anda jatuh dari motor, salah satu pahala kita yang langsung di nikmati

  1. Kriyamana Karma Phala

Hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang. Contohnya di kehidupan sekarang kita menjadi orang yang baik dan kita meninggal sebalum bisa menikmati hasil kebaikan kita dan di kehidupan selanjutnya kita akan terlahir di keluarga yang berkecukupan, tampan/cantik, dimana tidak ada penderitaan yang dialami.

Para mahasiswa yang berbahagia

Jadi cepat atau lmbat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala hasil perbuatan itu pasti akan membuahkan hasil dan pasti akan diterima, karena hal itu sudah merupakan hukum sebab akibat. Di dalam Veda (wraspati tatwa 3) disebutkan “wasana artinya bahwa semua perbuatan yang telah dilakukan di dunia ini, orang akan mengacap akibat perbuatannya di alam lain, pada kelahiran nanti, apakah itu akibat yang baik atau akibat yang buruk. Apa saja perbuatan yang dilakukannya, pada akhirnya semua itu akan menghasilakn buah. Hal ini seperti periuk yang diisikan kemenyan, walaupun kemenyannya sudah habis dan periuknya di cuci bersih bertetap saja masih ada bau, bau kemenyan yang melekat pada periuk itu, dan inilah yang disebut wesana. Seperti juaga halnya dengan karma wesana. Ia ada pada Atman, ia melekat pada-Nya, iya mewarnai Atman. Jelasnya dengan itu seseorang tidak perlu sedih atau menyesali orang lain karena mengalami penderitaan atau tidak perlu sombong karena mengalami kebahagian, karena sebenarnya saat sekarang yang paling sulit, dimana ia yang mengalami penderitaan hendaknya tidak mengeluh dan tetap dalam jalan kebenaran, begitu juga yang mengalami kebahagiaan hendaknya bisa menjaga diri agar tidak sampai menjadi orang sombong dan menodai kebahagian yang diterima sekarang agar nantinya bisa menemukan kebahagian yang utama yaitu moksatam. Para mahasiswa yang berbahagia

Dapat saya simpulkan hakekat karma pahala sebagai hukum sebab akibat bahwa suatu sebab pasti akan membawa akibat dalam menjalani hidup ini agar selalu berpijak pada kebenaran (dharma) dan memahami bahwa dalam setiap apa yang kita lakukan didunia ini selalu terikat oleh hukum sebab akibat atau yang disebut dengan hukum karma phala, dimana setiap perbuatan baik (subhakarma) ataupun buruk (asubhakarma) yang kita lakuakan akan kita petik hasilnya dan kita pertanggungjawabkan di kehidupan setelah mati yaitu di sorga dan neraka itu sendiri. Agar terciptanya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara hendaknya kita semuanya selalu mendasarkan setiap perbuatan kita pada ajaran Agama dan dharma sehingga tercipta kehidupan yang harmonis, selaras, rukun dan damai.

Demikianlah dharma wacana yang dapat saya sampaikan apa bila ada hal yang kurang berkenan dalam pencampaian saya mohon maaf yang sebesar-besarnya ahirnya saya tutup dengan parama santi.

Om santih santih santih om

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Estetika Pura Dang Kahyangan Taman Sari, Budakeling

 ImageLatar Belakang

Di Bali terdapat banyak pura, dan Bali memiliki nama lain Pulau Seribu pura. Selain Pura, tempat pemujaan itu sering disebut khayangan atau parahyangan, sehingga ada istilah Sad Khayangan, Khayangan Jagat, Dang Khayangan, dan lain-lain. Pura Dang Khayangan merupakan tempat pemujaan terhadap jasa seorang pandita atau guru suci yang telah memberian ajaran agama kepada umat. Dang Kahyangan termasuk dalam klasifikasi pura umum, sebagai tempat pemujaan para rsi atu guru suci. Pura yang tergolong umum dipuja oleh seluruh umat Hindu sehingga sering disebut Khayangan jagat. Pura yang tergolong umum itu adalah Pura Besakih, Pura Batur, Pura Catur Lokapala, Pura Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan. ”Pura Dang Khayangan tergolong pura umum sebagai tempat pemujaan terhadap jasa seorang pandita/ guru suci atau dang guru. Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu karena pada hakikatnya semua umat merasa berutang kepada Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut Rsi Rna. Pura Dang Khayangan merupakan tempat suci untuk memuja perjalanan orang-orang suci seperti Rsi Markandeya, Mpu Kurutan, Mpu Gana, Mpu Beradah, Mpu Semeru, Danghyang Astapaka.

Salah satunya adalah Pura Dang Kahyangan Taman Sari, yang terletak di timur pulau Bali, tepat di bawah kaki Gunung Agung, Desa Budakeling. Pura Dang Kahyangan Taman Sari memiliki nuansa yang berbeda dari Dang Kahyangan lainnya, Dang Kahyangan Taman Sari kental dengan nuansa bangunan Budha (Budhaistik). Ini tidak terlepas dari sosok seorang pandita/ guru suci yang sangat berjasa bagi masyarakat di Desa Budakeling yang di puja di Pura Taman Sari, Beliau adalah Dang Hyang Astapaka, seorang wiku Budha dari Jawa keling.

Dahulu, sebelum menjadi Dang Kahyangan, Taman sari merupakan pasraman Dang Hyang Astapaka, setelah beliau nibana/moksa, masyarakat beserta keturunannya menjadikan Pasraman Taman Sari menjadi Pura Taman Sari sesuai dengan konsep bentuk pura secara umum dan disatukan dengan nuansa Budhaistik.

Berdasarkan latar belakang di atas maka dipandang perlu dalam merumuskan masalah Bagaimana bentuk estetika bangunan pura taman sari dan pelinggih pelingih yang terdapat di pura taman sari yang bernuansa ajaran Buddha Mahayana.

 Imagepembahasa

2.1 Estetika Pura Dang Kahyangan Taman Sari berdasarkan bentuk adalah

Estetika berasal dari kata Yunani aesthetis atau pengamatan, adalah cabang ilmu filsafat yang berbicara tentang keindahan. Objek dari estetika sendiri adalah pengalaman keindahan, yang dicari adalah hakikat keindahan, bentuk-bentuk pengalaman keindahan.

Secara etimologi, estetika berasal dari kata latin bellum akar kata bonum yang berarti kebaikan. Menurut cakupannya dibedakan keindahan sebagai suatu kualitas abstrak (beauty) dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah (beautiful). Keindahan dalam arti luas meliputi keindahan alam seni, moral dan intelektual.

Nilai seni dilihat dari sudut mediumnya, adalah suatu karya seni memiliki nilai indrawi yang menyebabkan seorang pengamat menikmati/memperoleh kepuasan dari ciri-ciri indrawi yang disajikan oleh suatu karya seni.

Mengamati uraian pendapat diatas, karya seni sebagai hasil cipta manusia memiliki nilai untuk memuaskan manusia, seni tidak hanya menyajikan bentuk-bentuk yang dicerap manusia semata, tetapi juga mengandung tujuan abstrak yang bersifat rohaniah yaitu suatu makna yang memberi arti bagi manusia.

Nilai pendidikan estetika juga berarti nilai pendidikan seni dan budaya yang merupakan hasil daya cipta karsa manusia, yang diciptakan dengan perasaan halus, indah dan luhur. Konsep estetika khususnya di Bali yakni, satyam (kebenaran), siwam (kesucian), sundaram (keindahan). Oleh karena itu dalam estetika Hindu yang dipentingkan adalah sebuah dialektika yang selalu menempatkan kebenaran itu suci dan indah serta keindahan itu harus suci dan mengandung kebenaran.

Pura merupakan merupakan tempat suci sebagai pusat penyembahan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta prabhawa dan manifestasi beliau yang dibangun dengan indah dan seni. Berdasarkan pernyataan tersebut, Pura Taman Sari di Desa Pakraman Budakeling dibangun dengan indah dan seni. Unsur seni dan budaya yang terdapat pada Pura Taman Sari adalah terlihat pada bentuk/struktur pura yang dalam proses pembangunannya di dasari oleh rasa seni yang tinggi sehingga menghasilkan karya yang indah dan megah. Pura dibangun sedemikian rupa sehingga nampak indah, di mana dalam proses pembangunan Pura Taman Sari senantiasa berpedoman pada Lontar Asta Kosala Kosali, Padma Bhuana dan Asta Bhumi dan berlandaskan aspek filosofis dan kesucian tanah, aspek Tri Hita Karana, aspek Tri Mandala dan yang paling utama adalah senantiasa didasari oleh pelaksanaan ritual keagamaan yang dilengkapi dengan sarana upakara serta simbol-simbol berupa hiasan palinggih yakni kober, tedung, tumbak, lamak, ceniga, tamiyang dan pangangge palinggih (busana) yang memiliki nilai tattwa yang sangat tinggi sehingga umat yang datang dan melaksanakan persembahyangan di Pura Taman Sari merasakan kekuatan magis dan merasakan kedamaian dan ketentraman batin jika berada di areal pura.

Bagi umat Hindu khususnya di Bali, dalam melaksanakan dharma agamanya senantiasa didomisasi dari segi ritual (bentuk upacara). Bentuk-bentuk ritual yang identik dengan banten, sehingga dalam pelaksanaan ritual keagamaan yang dilaksanakan di Pura Taman Sari senantiasa dilengkapi dengan sarana upakara berupa banten yang mengandung nilai seni dan nilai religius yang sangat tinggi. Bagi masyarakat Hindu khususnya di Desa Pakraman Budakeling, nilai estetika yang dimilikinya dituangkan dalam segala aktivitas kehidupan maupun memuja Tuhan, karena disadari bahwa segala sesuatu yang diperoleh adalah atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Manusia diberi kemampuan untk mengolah unsur-unsur alam yang telah tersedia. Selain nilai estetika yang terdapat pada bangunan pura, juga dapat dilihat dari tata cara berbusana di Pura yang senantiasa menampilkan segi keindahan bagi orang yang memandang. Begitu pula halnya pada pementasan berbagai macam kesenian dalam kaitannya memuja kebesaran dan keagungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa di Pura Taman Sari dilaksanakan melalui pementasan Seni Tari (Tari Baris, Tari Rejang, Tari Pendet), Seni Tabuh (suara Genta sang pandita, gamelan, kul-kul) serta Seni Suara (mantra, puja pangasthawa oleh pandita maupun pinandita, wargasari, kekawin, kidung, wirama) yang secara bersamaan mengiringi pelaksanaan upacara yajna di Pura Taman Sari menambah semangat dan kemeriahan yajna yang dilaksanakan sehingga masyarakat merasakan ketenangan dan kedamaian (lihat lampiran gambar 36). Seluruh unsur-unsur seni tersebut menampakkan nilai estetika, seni dan budaya yang adi luhung, sekaligus sebagai sarana dalam melestarikan budaya Bali yang telah kita warisi.

 

2.2 Estetika Jajaran Pelinggih-pelingih di Pura Dang Khyangan Taman Sari berdasarkan bentuk yaitu

ImageSebagai pedoman, menurut keterangan dari informan Ida Mangku Siwi (wawancara) menjelaskan bahwa palinggih-palinggih dan bangunan suci yang terdapat di Pura Taman Sari di Desa Pakraman Budakeling, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, adalah sebagai berikut:

  1. Pasimpenan, adalah sebuah bangunan berbentuk ruangan berukuran 4×4 meter yang digunakan sebagai tempat menyimpan alat-alat perlengkapan upacara yang disebut “pangawin” dan “bhusana”. Pangawin merupakan benda sakral yang digunakan saat upacara yajna, seperti pratima, tedung, tumbak, umbul-umbul, bandrang, ungkulan, pagut dan sebagainya. Sedangkan bhusana adalah kain yang dibuat khusus untuk menghias palinggih, arca dan sebagainya, seperti ider-ider, kampuh, tamiang, ceniga, lamak dan sebagainya.
  2. Palinggih Taksu, berbentuk tugu yang terbuat dari batu padas dan dihias dengan berbagai ornament. Taksu menurut sabda Mpu Kuturan adalah merupakan penghayatan Tri Guna (Bhagawan Siwadharma) (Dwijendra, 2008 : 106). Sedangkan dalam istilah Agama Hindu taksu diartikan sebagai bangunan untuk memohon kewibawaan, yang ada pada setiap keluarga Hindu (Murdana, 2006 : 78). Berdasarkan hasil wawancara dengan Ida Mangku Siwi (tanggal 20 Juni 2010), Palinggih Taksu yang terdapat pada Pura Taman Sari merupakan stana Bhatara Siwadharma, lambang dari sumber energi, kekuatan magis Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
  3. Palinggih Menjangan Seluang,  berbentuk Gedong dan beratap dan memakai tutup dengan tiang di tengah, dilengkapi kepala menjangan yang ada di bagian depan palinggih. Secara filosofis kepala menjangan merupakan simbol dari binatang kesayangan Mpu Kuturan dan dianggap binatang suci sehingga menyatu dengan Brahman. Pada Pura Taman Sari, Palinggih Menjangan Seluang adalah stana Bhatara Dewi Danuh sakti Dewa Wisnu sebagai simbol pemberi kehidupan bagi mahkluk hidup dan alam semesta (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  4. Palinggih Limas Catu, berbentuk gedong beratap dan memakai tutup. Gedong sebagai bangunan suci mempunyai fungsi sebagai stana para Dewa, pada Pura Taman Sari, palinggih limas catu adalah sebagai stana Bhatara Sri Merta, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa  dalam fungsi beliau memberi anugrah berupa pangan dan amrta yang melimpah bagi mahkluk hidup dan alam semesta (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  5. Palinggih Limas Sari, berbentuk gedong beratap dan memakai tutup dan pada bagian atap terbuat dari ijuk yang dipurucut/bagian ujung atap diikat sedemikian rupa. Fungsinya sebagai stana Bhatara Sri Suci (Ida Mangku siwi, wawancara).
  6. Palinggih Gedong Sari, bentuknya serupa dengan tugu, hanya bagian kepala dibuat dari konstruksi kayu, atapnya ijuk sebagai penutup atap dan bertumpang untuk pemujaan persinggahan atau memuja yang dipuja di kahyangan jagat dari suatu pura tertentu. Fungsi palinggih gedong sari pada Pura Taman Sari adalah berbagai stana Bhatara Rambut Sedhana, yaitu Dewa kemakmuran (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  7. Palinggih Meru Tumpang Kalih, adalah sebuah bentuk palinggih beratap bertingkat-tingkat yang disebut tumpang dalam hal ini tumpang kalih yang merupakan simbol niskala. Tumpangannya ini semakin ke atas semakin kecil sebagai simbol gunung Mahameru perlambang alam semesta dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bagian-bagiannya terdiri atas kepala, badan dan bebaturan sebagai fondasi. Fungsi meru adalah sebagai tempat pemujaan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam beberapa aspeknya dan memuja leluhur. Pada Pura Taman Sari, palinggih Meru Tumpang Kalih adalah stana Ida Bhatara Sang Hyang Reka, yaitu Dewa yang bertugas mencatat segala perbuatan manusia dan makhluk hidup lainnya di alam niskala (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  8. Palinggih Padma Tiga, bentuk bangunan padma terdiri atas bagian kaki yang disebut tepas, badan atau batur dan bagian kepala yang disebut sari bentuknya seperti kursi singgasana dan tidak ber-atap. Padma Tiga digunakan sebagai media memuja Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi atau fungsi beliau dalam tiga aspeknya yang dalam Saiwa Siddhanta disebut dengan Tritunggal (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa). Palinggih Padma Tiga di Pura Taman Sari adalah stana Tritunggal dalam Boddha-Sogatha adalah Sang Hyang Buddha, Sang Hyang Adi Buddha, Sanghyang Parama Buddha, hal ini disebabkan karena Pura Taman Sari adalah tempat pemujaan Dang Hyang Asthapaka yang menganut agama Budha Mahayana, namun esensinya adalah sama yakni pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam tiga aspeknya (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  9. Palinggih Gedong Simpen, bentuk bangunannya berupa tugu di bagian atasnya berupa gedong dan memakai tutup dan dengan atap dari ijuk. Pada Pura Taman Sari, Palinggih Gedong Simpen adalah stana Bhatara Sang Hyang Upa Sedhana, yaitu Dewa penguasa harta kekayaan dan memberikan anugrah bagi mahkluk dan alam semesta (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  10. Palinggih Naba, adalah palinggih utama di Pura Taman Sari berbentuk padma, berupa tepas, bebaturan yang dilengkapi dengan hiasan badhawang nala, arca Dang Hyang Nirartha seorang wiku Siwa dan Dang Hyang Asthapaka seorang wiku Budha Mahayana sebagai simbol konsep penyatuan Siwa-Budha Tattwa. Pada bagian atas pelinggih berbentuk stupa sebagai simbol penganut ajaran Budha seperti pada bangunan candi Borobudur. Palinggih Naba pada Pura Taman Sari adalah sebagai stana Ida Bhatara Buddha, sebagai cikal bakal didirikannya Pura Taman Sari (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  11. Padma Ngelayang, berbentuk padma, berupa tepas, yang dilengkapi dengan hiasan badhawang nala, bebaturan, bagian atas berupa singgasana tanpa atap serta terdapat arca Dang Hyang Asthapaka. Palinggih Padma Ngelayang di Pura Taman Sari adalah sebagai stana Ida Bhatara Asthapaka, sebagai tempat pemujaan beliau yang telah berjasa menyebarkan ajaran agama Budha yang telah mengalami sinkritisme dengan ajaran Siwa sehingga dikenal dengan konsep Siwa-Budha tattwa, kini ajaran tersebut telah lebur menjadi satu dalam Saiwa Sidhanta yang tidak lain adalah Hindu Dharma itu sendiri. Serta sebagai rohaniwan Hindu yang menemukan tempat didirikannya Pura Taman Sari dan menurunkan keturunan warga Brahmana Budha yang berpusat di Desa Pakraman Budakeling (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  12. Palinggih Gedong Rong Tiga, berbentuk tugu dengan bagian atas berupa gedong yang memiliki tiga ruang (rong tiga) yang dilengkapi dengan tutup dan atap yang terbuat dari ijuk.
  13. Palinggih rong tiga di Pura Taman Sari adalah stana Ida Sang Hyang Tri Purusa Sakti, yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam  fungsinya sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur (Brahma, Wisnu dan Siwa). Dibangunnya palinggih gedong rong tiga di Pura Taman Sari adalah sebagai bentuk pemujaan kepada Sang Hyang Tri Purusa Sakti, hal ini disebabkan karena di Desa Pakraman Budakeling tidak memiliki Pura Kahyangan Tiga yang lengkap seperti halnya desa pakraman lainnya, namun hanya terdapat Pura Dalem saja sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa, yang umumnya ada di sebuah desa pakraman di Bali adanya Pura Puseh dan Pura Desa sebagai tempat memuja Dewa Wisnu dan Dewa Brahma. Maka dari itulah dibangun palinggih gedong rong tiga (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  14. Palinggih Ngrurah Sakti, berbentuk tugu dari batu padas yang dibuat sedemikian rupa tanpa atap. Palinggih Ngrurah Sakti adalah stana Ida Ratu Ngrurah Tangkeb Langit, yaitu Dewa yang melindungi alam semesta dan memberikan keselamatan bagi mahkluk hidup yang ada di dalamnya (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  15. Palinggih Gedong Rong Kalih, berbentuk tugu dengan bagian atas berupa gedong yang memiliki dua ruang (rong kalih) yang dilengkapi dengan tutup dan atap yang terbuat dari ijuk. Palinggih rong kalih di Pura Taman Sari adalah stana Bhatara-Bhatari (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  16. Bale Paselang, berupa bangunan yang memiliki enam tiang penyangga (Sakaném) dan dilengkapi dengan bale, tempat meletakkan sarana upacara berupa pratima, arca dan perlengkapan upacara lainnya. Bale Paselang di Pura Taman Sari adalah stana Sang Hyang Ardhanaraswari simbol konsep Rwabhineda, pengejawantahan simbol penyatuan Siwa-Budha. Ardhanaraswari menyiratkan Sang Hyang (Iswara) Tuhan Yang Maha Esa yang berbadan setengah pria (ardha) dan setengah perempuan (nari) juga berwujud acintya (tidak laki-laki maupun tidak perempuan) dia sering disebut berwujud ana-tan-hana yang ada tetapi tidak ada yang merupakan simbol pertemuan unsur Purusa dan Pradhana sebagai Hyang Tunggal yang membentuk alam semesta.  (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  17. Palinggih Papelik, terletak di tengah-tengah utama mandala (halaman dalam/jeroan) Pura Taman Sari. Bentuknya berupa bale dengan empat tiang penyangga utama (sakapat) dan beratap dari ijuk, dibuat agak tinggi dan megah dilengkapi dengan hiasan ukiran, arca dan ornamen serta simbol-simbol agama Hindu. Pada bagian tepas dilengkapi anak tangga dan pada bagian pegangan tangga terdapat hiasan Naga yakni simbol Naga Basuki dan Naga Taksaka yang bertugas menjaga kestabilan alam semesta. Palinggih papelik di Pura Taman Sari adalah sebagai stana Ida Bhatara Sang Hyang Aji Saraswati, yakni Dewa penguasa ilmu pengetahuan yang senantiasa menuntun umatnya dengan menganugerahkan berbagai macam ilmu pengetahuan sehingga semakin tinggi pemahaman mereka terhadap kehidupan guna mencapai tujuan hidup (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  18. Bale Pawedaan, bangunan sakapat (empat tiang penyangga), letaknya di bagian sisi berhadapan dengan bangunan palinggih, menghadap ke timur digunakan sebagai  tempat Ida Pedanda (Pandita) mayoga (melakukan puja pangasthawa) dalam memimpin upacara piodalan. Di samping itu digunakan sebagai tempat untuk menghias gegaluh, pratima, sebelum diadakan upacara piodalan maupun karya agung (Ida Mangku Siwi, wawancara).

Bangunan suci atau pura di Bali memiliki struktur dengan menggunakan konsep macrocosmos (bhuana agung), dari setiap bangunan atau palinggih memiliki fungsi tertentu sesuai dengan letak dan namanya masing-masing. karena dari setiap struktur Pura Taman Sari memiliki fungsi tertentu dan saling berkaitan satu sama lain.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai nilai Estetika Agama Hindu yang diperoleh dari bentuk/struktur bangunan pura beserta fungsinya masing-masing palinggih, yakni dari arca-arca, hiasan pada palinggih baik ukiran, ornamen maupun simbol-simbol yang terdapat pada setiap bangunan suci dan palinggih Pura Taman Sari meningkatkan keyakinan (Sradha) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sumber dari segalanya. Di samping itu, nilai pendidikan estetika (keindahan) yang tercermin pada setiap palinggih yang telah dihias sedemikian rupa, sehingga mampu meningkatkan konsentrasi saat melaksanakan persembahyangan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Titib I Made. Teologi dan simbol- simbol dalam Agama Hindu, Paramita Surabaya, 2003.

Purnama Ida Ayu. Sejarah Pura Taman Sari, sekripsi, 2010

Ida Mangku Siwi (wawancara)

http://www.network54.com/Forum/178267/message/1011745902/Dang+Khayangan,+Pemujaan+terhadap+Guru+Suci

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Tugas Pengantar Pariwisata(Pembuatan Arak Di Karangasem Sebagai Daerah Tujuan Wisata)

Tugas Pengantar Pariwisata

Pembuatan Arak Di Karangasem

Sebagai Daerah Tujuan Wisata

Indonesia merupakan Negara yang memiliki banyak daerah tujuan wisata, daerah tujuan wisata di Indonesia tersebar dari sabang sampai merauke, tujuan wisata yang di maksud  antara lain tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, NTT, Papua, dan yang lainnya, semua daerah tujuan wisata tersebut memiliki keunikan dan cirri khas masing- masing. Namun Daerah tujuan wisata yang paling menarik adalah Bali. Pulau kecil ini telah terkenal di seluruh dunia, bahkan ada wisatawan yang menyebutkan Indonesia dimananya Bali?.Bali memiliki potensi wisata yang cukup besar, meliput keindahan alamnya, aneka ragam kesenian, kekayaan budaya dan tradisi social religious kemasyarakatan yang di jiwai oleh Agama Hindu. potensi yang besar itu telah di kemas menjadi daerah tujuan wisata yang sangat menarik bagi wisatawan, sehingga Bali menjadi pusat pariwisata Indonesia bagian tengah dengan cirri khas “pariwisata Budaya”. Kebudayaan sebagai potensi yang dijadikan dasar pengembangan pariwisata sebagai kompleks yang mencangkup pengetahuan,kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan yang lain lain kemampuan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. dengan kata lain, kebudayaan itu mencangkup semua yang dipelajari dan di dapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.(Soejono Soekanto, 1990).

Derah tujuan Wisata di Bali tersebar di berbagai tempat, antara lain Denpasar, Gianyar, Tabanan,Bangli, klungkung, Karangasem dan Denpasar, semua daerah tujuan wisata tersebut memiliki keunikan masing masing, baik dari kebudayaan, alam, aneka ragam kesenian dan yang lainnya. Namun dari semua daerah tersebut tidak semuanya terjamah oleh pariwisata, seperti Karangasem,para wisatawan tidak banyak terdapat di karangasem, padahal di Kabupaten yang di kenal dengan buah Salaknya ini memiliki potensi wisata yang tidak kalah dari daerah lainnya di Bali. Karangasem memiliki daerah daerah yang juga cukup terkenal seperti Tenganan, Candidasa, Amed, Tulamben dan yang lainnya, semua daerah tersebut telah berjalan untuk kemajuan pariwisata, tapi semua itu belum cukup. Karangasem sebetulnya memiliki banyak potensi wisata yang bisa di manfaatkan.

Selain tempat tempat yang menarik Karangsem juga memiliki keindahan alam, budaya, buah buahan, minuman tradisional, makanan  dan yang lainnya. Semua itu belum di kenal oleh orang banyak, seperti minuman tradisional Bali yaitu Arak, minuman ini produksi terbesarnya terdapat di Karangasem, minuman yang tergolong minuman keras ini adalah murni minuman asli masyarakat Bali, yang tidak kalah enak dengan minuman keras dari luar negeri. Arak sebenarnya memiliki potensi wisata yang besar, seperti Pembuatan Arak Karangasem Sebagai Potensi Daerah Tujuan Wisata.

Pembuatan Arak di Karangasem masih banyak orang yang belum mengetahiunya, sebenarnya proses pembuatan arak bisa di jadikan Obyek Pariwisata. Obyek pariwisata yang dimaksud adalah Proses Pembuatan Arak, namun kenyataannya, massih banyak yang tidak berminat untuk menjadikan tujuan wisata. maka dalam kesempatan ini penulis akan membahas mengenai cara mengembangkan pembuatan arak sebagai tujuan wisata dan apa kendala dalam mengembangkan pembuatan arak sebagai tujuan wisata.

Cara mengembangkan pembuatan Arak sebagai tujuan wisata.

mengembangkan pariwisata memang tidak gampang apalagi sudah banyak terdapat daerah tujuan wisata yang sangat menarik, mamun untuk mengembangkan sesuatu kita harus berusaha. cara mengembangkan pariwisata pada mulanya hendaknya mengenali wilayah yang akan dijadikan sebagai lokasi pengembangan kepariwisataan yang tetap ditujukan untuk meningkatkan peran serta kesejahterahan masyarakat. penyiapan sumber daya manusia yang memiliki kopetensi tinggi di bidang kepariwisataan juga menjadi hal yang perlu di lalukan. kemampuan masyarakat dalam berinteraksi dan bersosialisasi perlu dilengkapi pula dengan kemampuan teknis, operasional dan manajerial dalam penyediaan barang dan jasa kepariwisaataan. dan juga setiap daerah harus dapat memposisikan dirinya dalam kerangka pembangunan kepariwisataan dengan diimbangi perencanaan yang matang dan upaya upaya peningkatan kompetensi SDM yang berkualitas agar daerah tujun wisata mampu terkenal dan meningkatkan kepariwisataan Bali.

Untuk mengembakan arak sebagai tujuan wisata tidak terlepas dari penjelasan diatas.

  1.  Mengenali tempat pembuatan arak adalah hal yang paling utama, disana kita melihat bagaimana proses pembuatannya, keunikannya, bahan dasar, alat yang digunakan, berapa lama, yang nantinya akan di gunakan untuk promosi untuk lebih menarik wisatawan. Disana juga kita bisa melihat apa yang perlu di tambah atau di kurangi di daerah yang nantinya akan menjadi tujuan wisata tersebut.  Dan apa saja yang bisa dilihat selain pembuatan arak, misalnya hutan palem, pohon lontar dan kelapa, yang merupakan bahan dasar untuk membuat arak itu bisa dimanfaatkan untuk wisata tambahan.
  2. Selain itu sumber daya manusianya juga harus di perhatikan yang terutama adalah kemampun berbahasa asing dan memenejemen kepariwisataan, dan juga harus mampu mempromosikan daeerah tujuan wisata, hingga menjelaskan kepada wisatawan agar tertarik untuk datang, dan juga mampu bersosialisasi di daerah tujuan wisata,menjealaskan secara rinci bagaimana pembuatan arak tersebut. selain itu kita harus memberikan bukti arak itu menarik untuk di kunjungi, misalnya dengan menjual arak yang bagus dan baik di hotel hotel, untuk bisa di coba oleh para wisatawan. dan juga harus gencar melakukan promosi dengan bekerja sama dengan  salah satu perusahaan promosi, membagikan brosur, dan melakukan kerjasama dengan tour guide.
  3.  Selain itu transportasi dan komunikasi juga menjadi prioritas utama dalam mengembangkan daerah tujuan wisata,  karena tranportasi dan komunikasi akan memperlancar wisatawan untuk datang ke daerah tujuan wisata. jalan jalan untuk menuju daerah tujuan wisata hendaknya di perlancar dengan memperbaiki agar layak untuk dilewati. Selain itu, restouran dan hotel atau vila juga perlu disediakan agar para wisatawan bisa lebih betah berada di Daerah tujuan wisata pembuatan arak. apalagi dengan diselesaikan dan di bukanya pelabuhan kapal pesiar di Karangasem, akan menambah kedatangan wisatawan untuk menikmati segala keindahan, budaya, dan adat istiadat Bali, khususnya Karangasem.
  4. Tidak terlepas dari itu, yang juga utama adalah bekerja sama dengan infestor asing dalam hal penanaman modal dan promosi ke luar negeri, agar nantinya pembuatan arak sebagai daerah tujuan wisata bisa terkenal, dan mampu mengekpor arak ke luar negeri.
  5. Mengusulkan agar arak memiliki hak paten sebagai minuman khas Bali. Dengan mengusulkan arak agar memiliki hak paten maka secara otomatis arak akan dikenal di seluruh dunia, dan mereka akan bertnya-tanya tentang bagaimana cara pembuatanya dan itu bisa menarik wisatawan untuk melihat langsung bagaimana cara membuat arak.

Kendala dalam mengembangkan pembuatan arak sebagai tujuan wisata.

Dalam melakukan sesuatu pasti kita akan menemukan berbagai Kendala, dalam pembuatan arak sebagai tujuan wisata terdapat berbagai kendala seperti

  1. Tempat yang tidak memadai, dilihat dari tempat, Karangasem adalah tempat yang lumayan jauh dari ibukota propinsi, itu akan mengurangi niat para wisatawan karena jauh. Ditempat pembuatan arak, rata rata tempatnya sangat jauh dari jalan raya, sehingga harus berjalan kaki dan juga jalannya rata rata rusak.
  2. Sumber daya manusia, adalah arak sangat di larang, arak sebagai minuman tradisional bisa menjadi potensi, tapi arak dilarang dan minuman keras lain tidak begitu di hiraukan, arak tidak memiliki hak paten untuk di ekpor ke luar negeri. Dan juga promosi yang kurang gencar dan mudahnya putus asa.
  3. Transportasi dan Komunikasi, seperti yang di atas, jarak yang jauh dari ibukota menjadi kendala, dan juga jalan jalan belum memadai untuk bisa sampai di daerah tujuan wisata.
  4. sulitnya mencari infestor untuk mau bekerjasama, dan merembet ke kurangnya promosi ke luar negeri.

Kesimpulan

Cara mengembangkan pembuatan arak sebagai tujuan wisata, dimulai dari tempat yang harus memadai dengan cara melihat langsung tempat tersebut, sumber daya manusia yang perlu di tingkatkan dengan belajar bahasa asing, trasportasi komunikasi, melakukan kerjasama dengan infestor adapun kendala kendala dalam mengembangkan pembuatan arak sebagai tujuan wisata yaitu tempat yang tidak memadai, jarak yang jauh, kurangnya promosi dan dilarangnya arak yang beredar di pasaran.

Saran

Adapun saran dari penulis adalah semua yang menjadi kendala hendaknya bisa lebih diperhatikan agar menjadi cara pengembangan yang menjadikan pariwisata pembuatan arak sebagai tujuan wisata yang lebih baik dan nantinya akan terwujud dan bisa berkembang untuk kemajuan pariwisata Bali Khususnya Karangasem.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

sejarah berdirinya pura taman sari desa budakeling

pura taman sari

SEJARAH BERDIRINYA PURA TAMAN SARI

            Sejarah berdirinya Pura Taman Sari di Desa Pakraman Budhakeling, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, berdasarkan babad Budhakeling perjalanan Dang Hyang Asthapaka di Bali. Sejarah Pura Taman Sari tidak bisa lepas dari perjalanan Dang Hyang Asthapaka ke Bali, seperti awal mulanya terwujudnya Desa Pakraman Budhakeling karena pada dasarnya, Desa Pakraman Budhakeling memang awalnya telah ada, namun wilayah tersebut belum memiliki nama dan batas batas tertentu. kemudian, kedatangan Dang Hyang Asthapaka ke Bali menemukan tempat yang kini disebut dengan Budhakeling, oleh keturunan beliau secara perlahan mulai dibangun sebuah desa serta infrastrukturnya untuk melengkapi didirikannya sebuah Desa, kemudian sebagai bentuk penghormatan atas jasa Dang Hyang Asthapaka, dibangunlah pura sebagai stana beliau, secara lebih lengkap diuraikan sebagai berikut:pura taman sari

Perjalanan Dang Hyang Asthapaka di Bali, setelah meninggalkan pasraman paman beliau yaitu Dang Hyang Niratha di Desa Mas, Gianyar. Karena pada masa itu, Raja Bali yakni Dalem Waturenggong telah mangkat. Kemudian Dang Hyang Asthapaka bersama anaknya Ida Banjar, melanjutkan perjalanan menuju arah timur hingga matahari terbenam, tibalah beliau di sebuah perbukitan dan beristirahat di sebuah batu, yaitu Batu Penyu sekitar tahun saka 1416/ 1494 masehi. Disanalah beliau bermalam sambil melihat keindahan pemandangan laut dan pegunungan.

Dalam ketenangannya tiba tiba didatangi oleh beberapa orang dengan nafas terengah engah dan mengaku mereka berasal dari desa tenganan desa yang berada di bawah pegunungan tersebut, mereka sedang mencari wewalungan/ binatang untuk perlengkapan upacara Ngusaba Sambah di desa mereka. Lalu mereka bertanya kepada Dang Hyang Asthapaka, “Siapakah Tuan??, adakah Tuan melihat Wewalungan di sini??”, kemudian Dang Hyang Asthapaka menjawab, “Saya ini Dang Hyang Asthapaka, Wiku Buddha Paksa, tidak ada wewalungan di sini”. Kemudian mereka bersimpuh dan menghaturkan Bhakti. “Nah sekarang pulanglah, wewalungan sudah ada di tempatnya semula”, kata Dang Hyang. Dengan segera mereka pulang, dan alangkah terkejutnya mereka karena memang benar yang dikatakan Dang Hyang, wewalungan sudah ada di sana.berlarilah mereka kembali ke Batu Penyu untuk menghadap Dang Hyang, “Pakulun sesuhunan, hamba mohon agar paduka berkenan menyaksikan karya usabha kami”, pinta mereka kepada Dang Hyang Asthapaka. “Nah disini sajalah, pulanglah”, jawab Dang Hyang. Inggih pakulunn, dimanapun keturunan paduka kelak hendaknya sudi menyaksikan bila ada upacara Ngusabha kami di desa Tenganan”, begitu permohonan mereka kepada Dang Hyang Asthapaka. inilah yang menyebabkan sampai sekarang keturunan Dang Hyang Asthapaka (khususnya dari Budhakeling), berkewajiban melaksanakan Bhisama dengan hadir menyaksikan setiap ada upacara  Ngusaba desa yang disebut Ngusaba Sambah yang jatuh pada purnamaning sasih kasa, biasanya pada bulan juni-juli di desa Tenganan Pagringsingan, Karangasem. Karena, jika tidak dilaksanakan oleh keturunan Dang Hyang Asthapaka maka hasil bumi berupa padi, palawija dan tanaman lainnya yang ada di Desa Tenganan tidak akan berhasil dengan baik.

Diceritakan ketika malam, saat beliau masih duduk di Batu Penyu, terlihatlah oleh beliau seberkas sinar yang menyilaukan seakan turun dari angkasa menuju bumi, lama beliau tertengun menatap sinar tersebut dan seakan ditahan oleh kekuatan gaib sehingga tidak mampu berjalan, seolah olah beliau mendengar bisikan halus “He Sang Stiti Hatunggu Dharma, Kapwa sire, Hiku Kang Katingal de Nire, maka tengeran hungwanira maka muliheng suksma laya”. (he yang taat melaksanakan Dharma, yang terlihat olehmu, menjadi pertanda tempatmu yang akan pulang ke peristirahatan halus). Demikian terdengar oleh beliau, setelah itu segera Dang Hyang Asthapaka melanjutkan perjalanan menuju sumber cahaya tersebut. Semakain mendekat, semakin mereduplah cahaya tersebut dan akhirnya beliau beristirahat di sana serta menancapkan tongkat (teteken) yang terbuat dari sebatang kayu Tanjung (sejenis tanaman bunga yang berbau harum). tongkat tersebut tumbuh subur sampai sekarang dan pohonnya masih dapat disaksikan di Pura Taman Tanjung di Desa Pkraman Budhakeling.

Di tempat beliau menancapkan tongkat ini beliau mendirikan pasraman sebagai tempat menyebarkan ajaran ajaran agama serta dijadikan tempat tinggal (Geriya) Dang Hyang Astapaka selama bermukim di Desa Pakraman Budhakeling. Sedangkan di tempat Cahaya itu berasal +500 meter dari tongkat tersebut ditancapkan di bangun Pamrajan (Pura) yang disebut dengan Pamrajan Taman Sari tempat beliau melaksanakan yoga Samadhi, menghubungkan diri dengan Brahman. Di Pamrajan inilah Dang Hyang Asthapaka kembali ke Budhalaya tanpa meninggalkan jenasah (Moksha), sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau, menyebarkan ajaran ajaran agama pada penduduk desa, maka Pamrajan Taman Sari tersebut kini disebut Pura Taman Sari, dengan dilengkapi Palinggih Padma Naba sebagai stana Bhatara Buddha dan Palinggih Padma Ngelayang sebagai stana Bhatara Dang Hyang Astaphaka yang di sungsung oleh segenap pratisentana (keturunan) Dang Hyang Asthapaka (wangsa Brahmana Siwa- Budha si-Bali-Lombok).

(sekripsi dayu purnama: 2010)

(wawancara ida mangku siwi : 2009)

Categories: Uncategorized | 3 Komentar

karma (teks dharma wacana)

Om Swastyastu

Om Namo Sivaya Budhaya

 

Yth.

Para mahasiswa  yang saya banggakan

 

Para mahasiswa yang berbahagia marilah kita haturkan Rasa angayu bagia  kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas asung kerta waranugraha-Nyalah kita dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat baik jasmani maupun rohani, pada kesempatan hari ini ijinkanlah saya menyampaikan Dharma Wacana yang berjudul “Karma”. Pada kesempatan hari ini saya mengangkat topik ajaran hukum karma atau karma pahala, karena masih ada sahabat kurang memahami dengan  karma.

Para mahasiswa yang berbahagia, seringkali kita melihat dimasyarakat  saudara kita  yang berbuat tidak baik tetap beruntung (senang), sedangkan saudara kita yang sering berbuat baik malahan hidupnya susah bahkan sering dicemoh, didalam kitab Slokantara 68 ada menyebutkan, Karmaphala  ngaran ika pahalaning gawe hala ayu : karmaphala artinya akibat atau buah dari perbuatan buruk maupun baik. sebagaimana sudah menjadi hukum karma segala sebab pasti membawa akibat. contoh jika kita menanam bibit salak maka buah salaklah yang kita petik bukan buah durian. Hanya saja dalam bentuk apa dan kapan waktunya kita memetik dan menikmati hasil dari perbuatan itu sepenuhnya tidak bisa dilepaskan dengan seradha karmaphala yang terbagi menjadi tiga Sancita karmaphala maksudnya buah dari perbuatan lampau yang belum habis dinikmati hasilnya akan menjadi unsur turut menentukan bahkan akan dinikmati pada kehidupan sekarang. Prarabda karmaphala, dimasa saat berbuat sekarang maka akan dinikmati hasilnya pada kehidupan sekarang, Krimana karmapahala hasil perbuatan sekarang yang tidak habis dinikmati pada saat sekarang maka akan menjadi unsur yang menentukan dan malah akan dinikmati pada kehidupannya yang akan datang setelah numitis kembali, apa yang dipertanyakan diatas dimana ada saudara kita yang tidak berbuat baik tetapi nyatanya kehidupanya selalu penuh dengan keberuntungan atau kesengsaraan tetntu tidak perlu heran lagi. Apa yang dinikmatinya sekarang berupa keberuntungan atau kesenangan tidak bisa terlepas dari perbuatan-perbuatan masa lampau. dan yakinlah apa yang diperbuat baik pada kehidupan sekarang pasti akan dinikmati juga kalau tidak sekarang pasti pada kehidupan setelah numadi lagi. Begitupun terhadap orang-orang yang meski telah banyak berbuat baik, tetapi kenyataan hidupnya terus dirundung kemalangan atau bernasib buruk, bahkan tidak jarang dicemoh orang semua itu tidak terlepas dari lingkaran hukum karma sancita, prarabda, krimana karmapahala. Lalu jika demikian muncul sebuah pertanyaan dimanakah letak sorga dan neraka tersebut?

Para mahasiswa yang saya sayangi. sorga dan neraka dalam ajaran Agama hindu memang benar adanyan, namun sorga bukan menjadi tujuan akhir dari manusia sehingga bagi umat hindu tujuan akhir adalah bukan masuk Sorga, melainkan Moksha. Secara harfiah, Sorga berasal dari kata Sanserketa “svar” dan “ga”. “Svar” artinya cahaya dan “ga” artinya pergi. Jadi svarga artinya perjalanan menuju cahaya. Di dalam Weda juga dikatakan bahwa Sorga adalah “dunia ketiga” yang penuh sinar dan cahaya. Sorga dalam hindu seperti digambarkan dalam Weda adalah suatu tempat, satu dunia, dimana cahaya selalu bersinar, terdapat orang suci, dunia kebaikan dan dunia abadi. Dalam kitab suci hindu dikatakan bahwa Sorga merupakan persinggahan sementara. Bahkan, menurut Swami Dayananda Saraswati, Sorga adalah pengalaman liburan. Bagawad Gita dalam hal ini mengatakan:”setelah menikmati Sorga yang luas , mereka kembali ke dunia. Sorga adalah kesenangan sementara, sedangkan kebahagian yang sejati adalah moksha. Dalam ajaran agama hindu karma yang kita dapat apabila berbuat tidak sesuai dangan ajaran agama adalah neraka, Neraka Menurut Hindu memang diperlukan. Ini adalah ungkapan yang sangat profokatif. Sebuah argumen mengatakan, apabila hasil yang diterima setiap orang sama, entah itu baik atupun tidak dan mendapat imbalan yang sama, lantas apa yang mendasari orang untuk selalu berbuat baik, berbuat berdasarkan Dharma. Neraka dalam pandangan Agama digambarkan sebagai suatu tempat yang terletak jauh di dalam bumi. Ia adalah tempat penyiksaan yang sangat mengerikan berbentuk kawah api yang panasnya beribu kali lipat dari panas api di dunia. Roh- roh yang banyak melakukan dosa di dunia akan mengalami penyiksaan ditusuk dengan tombak dan dipukuli. Sorga dan neraka dalam ajaran Agama hindu disebut juga sebagi ajaran etika dengan adanya konsep karma phala (hukum sebab akibat) dimana manusia diharapkan selalu mendasarkan kehidupannya pada dharma (kebenaran) dan karma phala ini sebagai acuan jika manusia berbuat subakarma (kebaikan) makan phala baiklah yang akan diterimanya, sebaliknya jika asubhakarma (kejahatan) yang dilakukannya maka phala buruklah yang diterimanya.

Dalam kitab suci sarasamuccaya dikatakan:

“Apan ikan dadi wwang, utama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika”.

Artinya:

Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama apa sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang- ulang) dengan jalan berbuat baik; demikiannyalah keutamaannya menjadi manusia.

Dalam sloka ini menjelaskan, menjadi manusia ini merupakan hal yang mulia agar setiap manusia mampu membebaskan dirinya dari kesengsaraan dengan jalan berbuat subhakarma (kebaikan) dan terbebas dari hukum reengkarnasi dan mencapai kesempurnaan yaitu moksatam jagaditaya ya ca iti dharma.

Seperti narasi yang disampaikan oleh gede prama, karma adalah sebuah topik yang banyak diplajari, semua sahabat di hindu maupun di budha, bagi segelintir orang, sahabat karma itu menakutkan, karena terkait dengan sebuah tempat menakutkan bernama neraka, bagi seglintir sahabat yang lain karma menggembirakan karena terkait dengan sebuah tempat indah bernama surga, pertanyaan anda dan pertanyaan saya adalah bagaimana berbuat karma baik karma positif, dan banyak pemuka agama sudah bertutur ke anda dan saya, berpikir yang, baik kata-kata yang baik perbuatan baik, adalah kumpulan tabungan karma positif yang bisa membawa kita ketingkat yang lebih tinggi, tapi ada sahabat yang berpikir lebih jauh tidak saja mengumpulkan karma positif tapi melampaui karma, dimana seluruh karma negatif maupun positif kita lampaui dengan apa dengan kedalaman semadhi, mudah-mudahan pesan saya berguna bagi anda anda semua

Para mahasiswa yang berbahagia dapat saya simpulkan hakekat karma pahala sebagai hukum sebab akibat bahwa suatu sebab pasti akan membawa akibat dalam menjalani hidup ini agar selalu berpijak pada kebenaran (dharma) dan memahami bahwa dalam setiap apa yang kita lakukan didunia ini selalu terikat oleh hukum sebab akibat atau yang disebut dengan hukum karma phala, dimana setiap perbuatan baik (subhakarma) ataupun buruk (asubhakarma) yang kita lakuakan akan kita petik hasilnya dan kita pertanggungjawabkan di kehidupan setelah mati yaitu di sorga dan neraka itu sendiri. Agar terciptanya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara hendaknya kita semuanya selalu mendasarkan setiap perbuatan kita pada ajaran Agama dan dharma sehingga tercipta kehidupan yang harmonis, selaras, rukun dan damai.

Demikianlah dharma wacana yang dapat saya sampaikan apa bila ada hal yang kurang berkenan dalam pencampaian saya mohon maaf yang sebesar-besarnya ahirnya saya tutup dengan parama sesanti.

“Om Santi, Santi, Santi Om”

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.