Estetika Pura Dang Kahyangan Taman Sari, Budakeling

 ImageLatar Belakang

Di Bali terdapat banyak pura, dan Bali memiliki nama lain Pulau Seribu pura. Selain Pura, tempat pemujaan itu sering disebut khayangan atau parahyangan, sehingga ada istilah Sad Khayangan, Khayangan Jagat, Dang Khayangan, dan lain-lain. Pura Dang Khayangan merupakan tempat pemujaan terhadap jasa seorang pandita atau guru suci yang telah memberian ajaran agama kepada umat. Dang Kahyangan termasuk dalam klasifikasi pura umum, sebagai tempat pemujaan para rsi atu guru suci. Pura yang tergolong umum dipuja oleh seluruh umat Hindu sehingga sering disebut Khayangan jagat. Pura yang tergolong umum itu adalah Pura Besakih, Pura Batur, Pura Catur Lokapala, Pura Sad Kahyangan dan Dang Kahyangan. ”Pura Dang Khayangan tergolong pura umum sebagai tempat pemujaan terhadap jasa seorang pandita/ guru suci atau dang guru. Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu karena pada hakikatnya semua umat merasa berutang kepada Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut Rsi Rna. Pura Dang Khayangan merupakan tempat suci untuk memuja perjalanan orang-orang suci seperti Rsi Markandeya, Mpu Kurutan, Mpu Gana, Mpu Beradah, Mpu Semeru, Danghyang Astapaka.

Salah satunya adalah Pura Dang Kahyangan Taman Sari, yang terletak di timur pulau Bali, tepat di bawah kaki Gunung Agung, Desa Budakeling. Pura Dang Kahyangan Taman Sari memiliki nuansa yang berbeda dari Dang Kahyangan lainnya, Dang Kahyangan Taman Sari kental dengan nuansa bangunan Budha (Budhaistik). Ini tidak terlepas dari sosok seorang pandita/ guru suci yang sangat berjasa bagi masyarakat di Desa Budakeling yang di puja di Pura Taman Sari, Beliau adalah Dang Hyang Astapaka, seorang wiku Budha dari Jawa keling.

Dahulu, sebelum menjadi Dang Kahyangan, Taman sari merupakan pasraman Dang Hyang Astapaka, setelah beliau nibana/moksa, masyarakat beserta keturunannya menjadikan Pasraman Taman Sari menjadi Pura Taman Sari sesuai dengan konsep bentuk pura secara umum dan disatukan dengan nuansa Budhaistik.

Berdasarkan latar belakang di atas maka dipandang perlu dalam merumuskan masalah Bagaimana bentuk estetika bangunan pura taman sari dan pelinggih pelingih yang terdapat di pura taman sari yang bernuansa ajaran Buddha Mahayana.

 Imagepembahasa

2.1 Estetika Pura Dang Kahyangan Taman Sari berdasarkan bentuk adalah

Estetika berasal dari kata Yunani aesthetis atau pengamatan, adalah cabang ilmu filsafat yang berbicara tentang keindahan. Objek dari estetika sendiri adalah pengalaman keindahan, yang dicari adalah hakikat keindahan, bentuk-bentuk pengalaman keindahan.

Secara etimologi, estetika berasal dari kata latin bellum akar kata bonum yang berarti kebaikan. Menurut cakupannya dibedakan keindahan sebagai suatu kualitas abstrak (beauty) dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah (beautiful). Keindahan dalam arti luas meliputi keindahan alam seni, moral dan intelektual.

Nilai seni dilihat dari sudut mediumnya, adalah suatu karya seni memiliki nilai indrawi yang menyebabkan seorang pengamat menikmati/memperoleh kepuasan dari ciri-ciri indrawi yang disajikan oleh suatu karya seni.

Mengamati uraian pendapat diatas, karya seni sebagai hasil cipta manusia memiliki nilai untuk memuaskan manusia, seni tidak hanya menyajikan bentuk-bentuk yang dicerap manusia semata, tetapi juga mengandung tujuan abstrak yang bersifat rohaniah yaitu suatu makna yang memberi arti bagi manusia.

Nilai pendidikan estetika juga berarti nilai pendidikan seni dan budaya yang merupakan hasil daya cipta karsa manusia, yang diciptakan dengan perasaan halus, indah dan luhur. Konsep estetika khususnya di Bali yakni, satyam (kebenaran), siwam (kesucian), sundaram (keindahan). Oleh karena itu dalam estetika Hindu yang dipentingkan adalah sebuah dialektika yang selalu menempatkan kebenaran itu suci dan indah serta keindahan itu harus suci dan mengandung kebenaran.

Pura merupakan merupakan tempat suci sebagai pusat penyembahan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta prabhawa dan manifestasi beliau yang dibangun dengan indah dan seni. Berdasarkan pernyataan tersebut, Pura Taman Sari di Desa Pakraman Budakeling dibangun dengan indah dan seni. Unsur seni dan budaya yang terdapat pada Pura Taman Sari adalah terlihat pada bentuk/struktur pura yang dalam proses pembangunannya di dasari oleh rasa seni yang tinggi sehingga menghasilkan karya yang indah dan megah. Pura dibangun sedemikian rupa sehingga nampak indah, di mana dalam proses pembangunan Pura Taman Sari senantiasa berpedoman pada Lontar Asta Kosala Kosali, Padma Bhuana dan Asta Bhumi dan berlandaskan aspek filosofis dan kesucian tanah, aspek Tri Hita Karana, aspek Tri Mandala dan yang paling utama adalah senantiasa didasari oleh pelaksanaan ritual keagamaan yang dilengkapi dengan sarana upakara serta simbol-simbol berupa hiasan palinggih yakni kober, tedung, tumbak, lamak, ceniga, tamiyang dan pangangge palinggih (busana) yang memiliki nilai tattwa yang sangat tinggi sehingga umat yang datang dan melaksanakan persembahyangan di Pura Taman Sari merasakan kekuatan magis dan merasakan kedamaian dan ketentraman batin jika berada di areal pura.

Bagi umat Hindu khususnya di Bali, dalam melaksanakan dharma agamanya senantiasa didomisasi dari segi ritual (bentuk upacara). Bentuk-bentuk ritual yang identik dengan banten, sehingga dalam pelaksanaan ritual keagamaan yang dilaksanakan di Pura Taman Sari senantiasa dilengkapi dengan sarana upakara berupa banten yang mengandung nilai seni dan nilai religius yang sangat tinggi. Bagi masyarakat Hindu khususnya di Desa Pakraman Budakeling, nilai estetika yang dimilikinya dituangkan dalam segala aktivitas kehidupan maupun memuja Tuhan, karena disadari bahwa segala sesuatu yang diperoleh adalah atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Manusia diberi kemampuan untk mengolah unsur-unsur alam yang telah tersedia. Selain nilai estetika yang terdapat pada bangunan pura, juga dapat dilihat dari tata cara berbusana di Pura yang senantiasa menampilkan segi keindahan bagi orang yang memandang. Begitu pula halnya pada pementasan berbagai macam kesenian dalam kaitannya memuja kebesaran dan keagungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa di Pura Taman Sari dilaksanakan melalui pementasan Seni Tari (Tari Baris, Tari Rejang, Tari Pendet), Seni Tabuh (suara Genta sang pandita, gamelan, kul-kul) serta Seni Suara (mantra, puja pangasthawa oleh pandita maupun pinandita, wargasari, kekawin, kidung, wirama) yang secara bersamaan mengiringi pelaksanaan upacara yajna di Pura Taman Sari menambah semangat dan kemeriahan yajna yang dilaksanakan sehingga masyarakat merasakan ketenangan dan kedamaian (lihat lampiran gambar 36). Seluruh unsur-unsur seni tersebut menampakkan nilai estetika, seni dan budaya yang adi luhung, sekaligus sebagai sarana dalam melestarikan budaya Bali yang telah kita warisi.

 

2.2 Estetika Jajaran Pelinggih-pelingih di Pura Dang Khyangan Taman Sari berdasarkan bentuk yaitu

ImageSebagai pedoman, menurut keterangan dari informan Ida Mangku Siwi (wawancara) menjelaskan bahwa palinggih-palinggih dan bangunan suci yang terdapat di Pura Taman Sari di Desa Pakraman Budakeling, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, adalah sebagai berikut:

  1. Pasimpenan, adalah sebuah bangunan berbentuk ruangan berukuran 4×4 meter yang digunakan sebagai tempat menyimpan alat-alat perlengkapan upacara yang disebut “pangawin” dan “bhusana”. Pangawin merupakan benda sakral yang digunakan saat upacara yajna, seperti pratima, tedung, tumbak, umbul-umbul, bandrang, ungkulan, pagut dan sebagainya. Sedangkan bhusana adalah kain yang dibuat khusus untuk menghias palinggih, arca dan sebagainya, seperti ider-ider, kampuh, tamiang, ceniga, lamak dan sebagainya.
  2. Palinggih Taksu, berbentuk tugu yang terbuat dari batu padas dan dihias dengan berbagai ornament. Taksu menurut sabda Mpu Kuturan adalah merupakan penghayatan Tri Guna (Bhagawan Siwadharma) (Dwijendra, 2008 : 106). Sedangkan dalam istilah Agama Hindu taksu diartikan sebagai bangunan untuk memohon kewibawaan, yang ada pada setiap keluarga Hindu (Murdana, 2006 : 78). Berdasarkan hasil wawancara dengan Ida Mangku Siwi (tanggal 20 Juni 2010), Palinggih Taksu yang terdapat pada Pura Taman Sari merupakan stana Bhatara Siwadharma, lambang dari sumber energi, kekuatan magis Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
  3. Palinggih Menjangan Seluang,  berbentuk Gedong dan beratap dan memakai tutup dengan tiang di tengah, dilengkapi kepala menjangan yang ada di bagian depan palinggih. Secara filosofis kepala menjangan merupakan simbol dari binatang kesayangan Mpu Kuturan dan dianggap binatang suci sehingga menyatu dengan Brahman. Pada Pura Taman Sari, Palinggih Menjangan Seluang adalah stana Bhatara Dewi Danuh sakti Dewa Wisnu sebagai simbol pemberi kehidupan bagi mahkluk hidup dan alam semesta (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  4. Palinggih Limas Catu, berbentuk gedong beratap dan memakai tutup. Gedong sebagai bangunan suci mempunyai fungsi sebagai stana para Dewa, pada Pura Taman Sari, palinggih limas catu adalah sebagai stana Bhatara Sri Merta, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa  dalam fungsi beliau memberi anugrah berupa pangan dan amrta yang melimpah bagi mahkluk hidup dan alam semesta (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  5. Palinggih Limas Sari, berbentuk gedong beratap dan memakai tutup dan pada bagian atap terbuat dari ijuk yang dipurucut/bagian ujung atap diikat sedemikian rupa. Fungsinya sebagai stana Bhatara Sri Suci (Ida Mangku siwi, wawancara).
  6. Palinggih Gedong Sari, bentuknya serupa dengan tugu, hanya bagian kepala dibuat dari konstruksi kayu, atapnya ijuk sebagai penutup atap dan bertumpang untuk pemujaan persinggahan atau memuja yang dipuja di kahyangan jagat dari suatu pura tertentu. Fungsi palinggih gedong sari pada Pura Taman Sari adalah berbagai stana Bhatara Rambut Sedhana, yaitu Dewa kemakmuran (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  7. Palinggih Meru Tumpang Kalih, adalah sebuah bentuk palinggih beratap bertingkat-tingkat yang disebut tumpang dalam hal ini tumpang kalih yang merupakan simbol niskala. Tumpangannya ini semakin ke atas semakin kecil sebagai simbol gunung Mahameru perlambang alam semesta dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bagian-bagiannya terdiri atas kepala, badan dan bebaturan sebagai fondasi. Fungsi meru adalah sebagai tempat pemujaan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam beberapa aspeknya dan memuja leluhur. Pada Pura Taman Sari, palinggih Meru Tumpang Kalih adalah stana Ida Bhatara Sang Hyang Reka, yaitu Dewa yang bertugas mencatat segala perbuatan manusia dan makhluk hidup lainnya di alam niskala (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  8. Palinggih Padma Tiga, bentuk bangunan padma terdiri atas bagian kaki yang disebut tepas, badan atau batur dan bagian kepala yang disebut sari bentuknya seperti kursi singgasana dan tidak ber-atap. Padma Tiga digunakan sebagai media memuja Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi atau fungsi beliau dalam tiga aspeknya yang dalam Saiwa Siddhanta disebut dengan Tritunggal (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa). Palinggih Padma Tiga di Pura Taman Sari adalah stana Tritunggal dalam Boddha-Sogatha adalah Sang Hyang Buddha, Sang Hyang Adi Buddha, Sanghyang Parama Buddha, hal ini disebabkan karena Pura Taman Sari adalah tempat pemujaan Dang Hyang Asthapaka yang menganut agama Budha Mahayana, namun esensinya adalah sama yakni pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam tiga aspeknya (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  9. Palinggih Gedong Simpen, bentuk bangunannya berupa tugu di bagian atasnya berupa gedong dan memakai tutup dan dengan atap dari ijuk. Pada Pura Taman Sari, Palinggih Gedong Simpen adalah stana Bhatara Sang Hyang Upa Sedhana, yaitu Dewa penguasa harta kekayaan dan memberikan anugrah bagi mahkluk dan alam semesta (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  10. Palinggih Naba, adalah palinggih utama di Pura Taman Sari berbentuk padma, berupa tepas, bebaturan yang dilengkapi dengan hiasan badhawang nala, arca Dang Hyang Nirartha seorang wiku Siwa dan Dang Hyang Asthapaka seorang wiku Budha Mahayana sebagai simbol konsep penyatuan Siwa-Budha Tattwa. Pada bagian atas pelinggih berbentuk stupa sebagai simbol penganut ajaran Budha seperti pada bangunan candi Borobudur. Palinggih Naba pada Pura Taman Sari adalah sebagai stana Ida Bhatara Buddha, sebagai cikal bakal didirikannya Pura Taman Sari (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  11. Padma Ngelayang, berbentuk padma, berupa tepas, yang dilengkapi dengan hiasan badhawang nala, bebaturan, bagian atas berupa singgasana tanpa atap serta terdapat arca Dang Hyang Asthapaka. Palinggih Padma Ngelayang di Pura Taman Sari adalah sebagai stana Ida Bhatara Asthapaka, sebagai tempat pemujaan beliau yang telah berjasa menyebarkan ajaran agama Budha yang telah mengalami sinkritisme dengan ajaran Siwa sehingga dikenal dengan konsep Siwa-Budha tattwa, kini ajaran tersebut telah lebur menjadi satu dalam Saiwa Sidhanta yang tidak lain adalah Hindu Dharma itu sendiri. Serta sebagai rohaniwan Hindu yang menemukan tempat didirikannya Pura Taman Sari dan menurunkan keturunan warga Brahmana Budha yang berpusat di Desa Pakraman Budakeling (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  12. Palinggih Gedong Rong Tiga, berbentuk tugu dengan bagian atas berupa gedong yang memiliki tiga ruang (rong tiga) yang dilengkapi dengan tutup dan atap yang terbuat dari ijuk.
  13. Palinggih rong tiga di Pura Taman Sari adalah stana Ida Sang Hyang Tri Purusa Sakti, yaitu manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam  fungsinya sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur (Brahma, Wisnu dan Siwa). Dibangunnya palinggih gedong rong tiga di Pura Taman Sari adalah sebagai bentuk pemujaan kepada Sang Hyang Tri Purusa Sakti, hal ini disebabkan karena di Desa Pakraman Budakeling tidak memiliki Pura Kahyangan Tiga yang lengkap seperti halnya desa pakraman lainnya, namun hanya terdapat Pura Dalem saja sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa, yang umumnya ada di sebuah desa pakraman di Bali adanya Pura Puseh dan Pura Desa sebagai tempat memuja Dewa Wisnu dan Dewa Brahma. Maka dari itulah dibangun palinggih gedong rong tiga (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  14. Palinggih Ngrurah Sakti, berbentuk tugu dari batu padas yang dibuat sedemikian rupa tanpa atap. Palinggih Ngrurah Sakti adalah stana Ida Ratu Ngrurah Tangkeb Langit, yaitu Dewa yang melindungi alam semesta dan memberikan keselamatan bagi mahkluk hidup yang ada di dalamnya (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  15. Palinggih Gedong Rong Kalih, berbentuk tugu dengan bagian atas berupa gedong yang memiliki dua ruang (rong kalih) yang dilengkapi dengan tutup dan atap yang terbuat dari ijuk. Palinggih rong kalih di Pura Taman Sari adalah stana Bhatara-Bhatari (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  16. Bale Paselang, berupa bangunan yang memiliki enam tiang penyangga (Sakaném) dan dilengkapi dengan bale, tempat meletakkan sarana upacara berupa pratima, arca dan perlengkapan upacara lainnya. Bale Paselang di Pura Taman Sari adalah stana Sang Hyang Ardhanaraswari simbol konsep Rwabhineda, pengejawantahan simbol penyatuan Siwa-Budha. Ardhanaraswari menyiratkan Sang Hyang (Iswara) Tuhan Yang Maha Esa yang berbadan setengah pria (ardha) dan setengah perempuan (nari) juga berwujud acintya (tidak laki-laki maupun tidak perempuan) dia sering disebut berwujud ana-tan-hana yang ada tetapi tidak ada yang merupakan simbol pertemuan unsur Purusa dan Pradhana sebagai Hyang Tunggal yang membentuk alam semesta.  (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  17. Palinggih Papelik, terletak di tengah-tengah utama mandala (halaman dalam/jeroan) Pura Taman Sari. Bentuknya berupa bale dengan empat tiang penyangga utama (sakapat) dan beratap dari ijuk, dibuat agak tinggi dan megah dilengkapi dengan hiasan ukiran, arca dan ornamen serta simbol-simbol agama Hindu. Pada bagian tepas dilengkapi anak tangga dan pada bagian pegangan tangga terdapat hiasan Naga yakni simbol Naga Basuki dan Naga Taksaka yang bertugas menjaga kestabilan alam semesta. Palinggih papelik di Pura Taman Sari adalah sebagai stana Ida Bhatara Sang Hyang Aji Saraswati, yakni Dewa penguasa ilmu pengetahuan yang senantiasa menuntun umatnya dengan menganugerahkan berbagai macam ilmu pengetahuan sehingga semakin tinggi pemahaman mereka terhadap kehidupan guna mencapai tujuan hidup (Ida Mangku Siwi, wawancara).
  18. Bale Pawedaan, bangunan sakapat (empat tiang penyangga), letaknya di bagian sisi berhadapan dengan bangunan palinggih, menghadap ke timur digunakan sebagai  tempat Ida Pedanda (Pandita) mayoga (melakukan puja pangasthawa) dalam memimpin upacara piodalan. Di samping itu digunakan sebagai tempat untuk menghias gegaluh, pratima, sebelum diadakan upacara piodalan maupun karya agung (Ida Mangku Siwi, wawancara).

Bangunan suci atau pura di Bali memiliki struktur dengan menggunakan konsep macrocosmos (bhuana agung), dari setiap bangunan atau palinggih memiliki fungsi tertentu sesuai dengan letak dan namanya masing-masing. karena dari setiap struktur Pura Taman Sari memiliki fungsi tertentu dan saling berkaitan satu sama lain.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai nilai Estetika Agama Hindu yang diperoleh dari bentuk/struktur bangunan pura beserta fungsinya masing-masing palinggih, yakni dari arca-arca, hiasan pada palinggih baik ukiran, ornamen maupun simbol-simbol yang terdapat pada setiap bangunan suci dan palinggih Pura Taman Sari meningkatkan keyakinan (Sradha) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sumber dari segalanya. Di samping itu, nilai pendidikan estetika (keindahan) yang tercermin pada setiap palinggih yang telah dihias sedemikian rupa, sehingga mampu meningkatkan konsentrasi saat melaksanakan persembahyangan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Titib I Made. Teologi dan simbol- simbol dalam Agama Hindu, Paramita Surabaya, 2003.

Purnama Ida Ayu. Sejarah Pura Taman Sari, sekripsi, 2010

Ida Mangku Siwi (wawancara)

http://www.network54.com/Forum/178267/message/1011745902/Dang+Khayangan,+Pemujaan+terhadap+Guru+Suci

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: